![]() |
| Pict Source |
Bila hidup adalah perjuangan, maka inilah garis perjuangan seorang jomblo. Bagaimana melawan segala bentuk keterikatan yang membelenggu dan memperbudak tiap orang dalam sebuah kekuasaan tersentralis bernama pacar. Menjadi jomblo adalah menjadi bebas. Kebebasan mutlak yang menolak otoritas lain membatasi ruang gerak tiap-tiap individu. Juga intervensi luar dalam berbagai aspek kehidupan. Bersama kesadaran murni tiap orang dapat merasakan kebebasan, seperti haknya menentukan untuk tidak menghapus kontak handphone lawan jenis yang dicurigai memiliki hubungan gelap. Tidak ada lagi kecurigaan tanpa dasar dan cemburu buta, karena dengan menjadi jomblo kita telah meruntuhkan kekuatan yang secara represif mengontrol diri kita, seperti ancaman putus, air mata buaya hingga ancaman bunuh diri. Tatanan hidup dalam berpacaran saat ini bersumber dari kontrol atas kehidupan sosial. Dengan sistem ini tiap orang mulai mendominasi satu sama lain. Permainan dominant-dominated pun bergulir dengan sendirinya. Beberapa ada yang bisa bernegoisasi dengan pasangannya namun banyak juga yang memilih tunduk dan menurut saja. Sudah saatnya jomblo menjadi jalan revolusi sosial dalam kehidupan.
Jomblo juga sebuah perkara menghapus tatanan kelas sosial yang secara sistematis terbentuk dalam kehidupan bermasyarakat yang disebabkan oleh sistem keterikatan bernama pacaran. Dari teman biasa, gebetan, friendzone, pacar, mantan hingga jomblo, status-status tersebut tersemat dalam diri tiap orang. Pemaknaan jomblo dalam kehidupan sehari-hari telah menjadi stigma yang kurang baik bagi penyandangnya. Apalagi setelah munculnya istilah jones alias jomblo ngenes. Seakan-akan jomblo menjadi strata terbawah dalam tatanan kelas sosial pada saat ini. Orang-orang memandang jomblo sebagai yang perlu dikasihani karena masih sendiri, fakir kasih sayang dll. Terlebih dengan munculnya meme forever alone yang merebak seantero jagad maya. Jomblo menjadi bahan bullying di sosial media yang kemudian masuk kedalam kehidupan sosial penyandangannya. Menjadi jomblo bukan berarti menjadi sendirian di muka bumi ini. Hidup ini tidak sekedar pengklasifikasian hubungan antar manusia semata, lebih dari itu hidup adalah bagaimana manusia dapat memanusiakan sesamanya.
Dalam memaknai jomblo kita tidak bisa mengartikan bahwa jomblo sekedar tak memiliki pacar semata. Seorang jomblo sejatinya adalah orang yang membagi cintanya secara merata, tanpa tending aling-aling dan tebang pilih. Pemerataan cinta dan kasih sayang merupakan salah satu tujuan dari jomblo itu sendiri. Sesama jomblo bisa mencurahkan kasih sayangnya satu sama lain layaknya orang yang berpacaran namun tanpa sebuah kesepakatan mengenai status yang harus mengikatnya. Kita tentu menyadarinya, hubungan pacaran bukanlah sebuah persyaratan dalam sebuah percintaan. Cinta bisa terjalin tanpa status pacaran. Cinta juga bukanlah perkara kepemilikan seseorang atas orang lain seperti penguasa feodal terhadap pekerja atau budaknya. Tak ada kelaliman dalam percintaan bagi seorang jomblo, karena tak ada motif kepemilikan di dalamnya. Dengan tidakhadirnya unsur kepemilikan dalam suatu hubungan, maka tidak ada lagi otoritas selain diri individu itu sendiri yang mengatur hidupnya. Cinta bagi jomblo adalah mencurahkan kasih untuk semua orang. Maka dari itu sudah saat kita teriakan yel-yel “Yang Jomblo Yang Bercinta!!!”.
